Tampilkan postingan dengan label Sensitif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sensitif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2010

42 Hari Telah Berlalu...

42 Hari telah berlalu sejak gue diwisuda... Dan gue masih dalam kekosongan.. Tanpa kegiatan yang berarti.. Masih jadi pengangguran (Tomy version's: jobhunter). Di saat-saat seperti ini banyak yang bisa terjadi... Banyak asumsi dan perasaan yang muncul dalam hati. Bahkan sering menggelayuti pikiran.. Sering muncul pikiran" aneh dan mengerikan dalam otak gue menyangkut masa depan... Sering terjadi pergulatan dalam hati tentang keputusan yang gue ambil dan menjadi mereka yang minoritas...

Kadang dalam hati gue muncul pikiran apakah keputusan yang gue ambil dengan tidak profesi ini sudah benar atau belum. Kalaupun ini adalah keputusan yang salah dan gue seharusnya mengambil keputusan untuk profesi, tapi dalam hati terjadi pergulatan yang besar sekali.. Ada keengganan dalam hati untuk profesi. Perasaan malas dan enggan ini diperkuat dengan ketidaknyamanan gue dengan lingkungan kampus selama ini. Entah apa namanya, yang jelas, sejak tahun kedua, sampai akhrinya gue lulus pun gue merasa ada jarak antara gue dan lingkungan kampus, termasuk dosen, teman" dan semuanya.. Ya, bisa dibilang, gue gak menemukan dunia gue disini.. Sekalipun gue lulus tepat waktu dengan hasil yang memuaskan, tapi entah kenapa hati gak bisa berbohong bahwa ada rasa ketidaknyamanan dengan lingkungan kampus.

Ibaratnya, ketika kita dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai, itu akan membuat kita tersiksa.. Sekalipun kita menjalani pernikahan itu, pasti ada perasaan yang gak bisa dibohongi bahwa sama sekali gak ada cinta yang tumbuh... Walaupun, mungkin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, tapi waktu kadang akan memberi jawaban bahwa mungkin saja cinta itu tidak akan pernah tumbuh...
Dan itulah yang gue rasakan saat ini... selama 4 tahun menimba ilmu disini, gue malah makin sadar, bahwa justru perasaan ketidaknyamanan itu semakin menguat..dan bahkan mungkin gak ada 'cinta'.

Entah apa yang membuat gue menjadi seperti ini. Tapi sekali lagi hati tetap tidak bisa berbohong. Ketidaknyamanan bagi gue mungkin muncul dikarenakan sistem dan keadaan kampus yang kurang bersahabat bagi orang" seperti gue.. Mungkin ini adalah salah satu pikiran yang picik.. Namun gue udah cukup muak dengan sistem 4L yang dianut lingkungan kampus. Gue merasa gak punya kesempatan berkembang dan mengembangkan potensi gue. Setiap kali gue ingin maju, selalu ada mereka.. orang-orang yang itu" saja.. Yang terlihat 'berkuasa' dan selalu terlihat sempurna di mata dosen. Padahal belum tentu. Padahal gue yakin kehidupan pergaulan mereka juga gak sebaik apa yang dosen lihat. Rasanya dosen hanya tahu mereka.. Padahal masih banyak mahasiswa lain yang juga memiliki potensi.. Gue malas melihat mereka lagi.. mereka lagi.. 

Hahahah.... pengakuan yang sangat brutal dan frontal sekali rasanya tulisan gue di atas...Ya, but i don't care... Gue hanya ingin menemukan lingkungan yang bisa membuat gue nyaman dan berkembang.. mungkin bukan di sana, meskipun gue telah menghabiskan waktu 4 tahun menimba ilmu disana.. tapi rasanya cukuplah 4 tahun menjadi manusia yang beku dan kaku..

Dan berbicara tentang kenyamanan.. 
Beberapa hari yang lalu ketika gue riweuh mengurus syarat" untuk pendaftaran CPNS, gue merasa nyaman sekali ditemani ibu dan bapak mengurus semuanya..
Entah kenapa..
Mungkin karena selama ini gue terbiasa sendiri dan tidak bersama mereka, tapi kemaren 2 harian , gue ditemani ibu, bapak, mba, dan ayu... Rasanya ada sesuatu yang beda...
Meskipun selama ini sepanjang usia gue gak banyak waktu yang gue habiskan bersama mereka, tapi gue gak bisa membohongi mereka bahwa kenyamanan sebagai keluarga telah gue dapatkan dari mereka...
Rasanya 2 harian kemaren gue menemukan dunia baru, menemukan kenyamanan dari sebuah keluarga baru.. Meskipun mereka adalah memang keluarga kandung gue yang sebenarnya, tapi gue merasakan kasih sayang da kehangatan yang sudah lama gak gue rasakan lagi selama ini... Gue merasa seperti anak kecil dan merasa begitu disayang dan diistimewakan..

Sempat terbesit kesedihan karena gue belum mampu membahagiakan mereka.. Gue belum mampu membaktikan diri gue untuk mereka... 

Dalam hati terpikir... apa gue masih bisa membahagiakan mereka... sementara gue sendiri masih mencari cahaya masa depan gue.. gue sendiri masih mencari batu untuk berpijak sebagai tempat menaungi mereka.. Gue berdoa supaya Dia gak 'mengambil' mereka begitu cepat sebelum gue mampu membahagaikan mereka.. Banyak hal yang ingin gue lakukan dengan hasil keringat gue sendiri untuk mereka...

Semoga saja Dia memberikan jalan bagi gue untuk bisa membahagiakan mereka... Semoga gue bisa segera berkerja, dan syukur"bisa keterima sebagai CPNS... Amin

Senin, 27 September 2010

Peng-iri-an :P

Heuh rasanya males banget ya jadi orang yang punya sifat iri, selalu merasa iri dan gak pernah merasa cukup.. Selalu aja merasa kurang dan pengen lebih atau mungkin menyamai dari orang lain... Ngomong" soal pengirian, beberapa waktu lalu gue juga merasakan syndrome ini..
Sebenernya wajar siy bagi manusia merasa iri kepada manusia lainnya.. hanya rasanya gak wajar aja kalo rasa iri itu justru membuat kita tersiksa karena gak pernah puas dan gak pernah bersyukur atas apa yang kita punya...
Oke, gue bakal sedikit share tentang rasa keirian yang sempet muncul dalam benak gue..

1. Gue iri ketika melihat wall to wall antara temen gue dan pacarnya di facebooknya.. Wall"nya dipenuhi kata" sayang dan romantis.. rasanya tiap hari selalu bahagia dan penuh cintaa..... whuaaa... ngiler...

Oke, penjelasan gue dari rasa iri gue ini adalah, bukan semata gue gak bahagia dan gak senang dengan hubungan yang gue punya sekarang... cuma kadang kalau lagi garing, dicuekin, dan sama" sibuk.. rasanya ada yang kosong dalam hati.. rasanya susah banget buat numbuhin getar" asmara (hahah.. najong) kalo mood lagi jelek.. Dan lagi, Tomy, cowok gue sekarang adalah bukan cowo yang romantis dan pinter bikin kata" manis setiap hari... Pembawaannya yang kaku, kadang cuek dan datar ketika di sms kadang bikin gue gemes... Meskipun bersama dia terasa lebih hangat ketika ketemu.. dibanding ketika di sms.. Dan.. pelan" gue mulai mengoreksi rasa iri gue ini. Ini memang gak boleh didiemin.. bagaimanapun, rumput tetangga selalu lebih bagus.. Bersyukur sajalah.. dengan seseorang yang gue punya hari ini.. toh, gue yakin rasa sayangnya untuk gue gak kalah dari rasa sayang pacar teman gue itu... 

2. Gue iri ketika melihat foto" pernikahan dan prewedding seseorang di internet.. Bertanya dalam hati, apakah gue bisa seperti itu.. Siapa yang akan jadi mempelai prianya ????

3. Gue iri mendengar kabar teman" yang sudah kerja dan punya penghasilan sendiri... Kapan giliran gue?? Apa gue bisa dapet kerjaan seperti mereka??

Bla.. bla.. bla...
Dan seribu perasaan iri lainnya yang muncul dalam hati kadang menganggu gue.. Tapi yasudahlah.. gak ada gunanya melihat ke atas terus.. masih banyak orang" yang di bawah kita.. nikmati dan bersyukur saja.. Sabar dan ikhlas menjalani hidup... rasanya itu lebih baik.. :)

Rabu, 08 September 2010

Lability...


Entah kenapa, gue lebih tertarik menceritakan perasaan gue disini, daripada share kegiatan gue selama beberapa hari ini, padahal beberapa hari ini, gue mengikuti beberapa kegiatan buka bersama dengan teman" semasa sekolah. Mulai dari SMA, SMP, sampai SD... Tapi dari semuanya itu, meskipun cukup berkesan, rasanya tetap gak bisa gue rasakan sepenuhnya.. Masih ada perasaan yang mengganjal dan kosong yang menggelayuti hati gue..

Kelabilan dan perasaan yang tidak menentu apalagi ketika menyangkut soal kerjaan dan masa depan.. Rasanya jadi sangat sensitif dan ada perasaan sedih yang menyergap seketika sewaktu ada orang lain yang menanyakan dan menyinggung masalah itu.. Berkali-kali juga gue tertunduk lesu, rasanya ingin menutup telinga dan tak ingin mendengarkan komentar atau pertanyaan orang" tentang itu..

Beberapa kejadian yang menurut gue masih menyesakkan berkaitan dengan keputusan yang gue ambil dan masa depan gue nantinya adalah...

PERTAMA, 
Ketika teman" dekat gue nampaknya shock dan kaget akan keputusan yang gue ambil untuk tidak profesi... Entah apa maksud kata" dan ekspresi yang mereka tunjukkan di hadapan gue waktu itu. Yang jelas rasanya sedikit menyesakkan, namun gue mencoba tersenyum.. Berharap semuanya akan  baik" saja...

KEDUA,
Ketika yudisium, dan pembantu dekan 1 bilang kalau seolah profesi itu wajib dan bagi mereka yang gak ikut profesi itu gak akan bisa kerja dimana-mana... Rasanya itu seketika membuat senyum gue hilang padahal hari itu adalah dimana hari yang cukup bersejarah bagi gue..

KETIGA..
Ketika gue sedang ingin mengirimkan surat lamaran kerja lewat TIKI, dan petugasnya menanyakan kepada gue, lulusan jurusan apa.. Dan, tentu saja, sebelumnya gue sudah bisa mengira, dia akan mengajukan pertanyaan itu.. Akhirnya gue menjawab jurusan ekonomi.. Dengan tujuan supaya dia gak tanya" lebih lanjut dan gak mengeluarkan ekspresi aneh karena tujuan surat lamaran pekerjaan gue gak satupun ke rumah sakit... 

KEEMPAT...
Ketika tadi sore om Bandi menawarkan kepada gue untuk kerja di Jepang sebagai caregiver lansia atau di panti jompo... Kembali gue mencoba tersenyum dan bilang kalau gue gak bisa bekerja sebagai perawat karena gue gak ambil profesi ners.. Gue tahu pasti yang muncul di benak beliau atau siapapun yang bertanya tentang soal ini pasti akan berkata: 'aneh. buat apa sekolah tinggi" kalau gak ambil profesi. mau jadi apa??'
Gue tahu.. ini semua gue yang memutuskan dan gue gak boleh menyesali itu, meskipun ada kesedihan yang muncul. Kesedihan yang muncul bukan semata-mata karena gue menyesal telah mengambil keputusan ini, tapi karena orang" di sekeliling gue meremehkan dan memandang sebelah mata ke arah gue hanya karena gue mengambil jalan yang berbeda dari orang kebanyakan...

KELIMA..
Ketika tadi siang di angkot ada ibu" yang tanya soal wisuda, kelulusan, praktek, bla bla... dan rasanya waktu itu gue ingin segera berlalu dari hadapannya, gak mendengarkan pertanyaan yang membuat gue sangat sensitif itu..

KEENAM..
Ketika gue bertemu dengan temen" SD yang juga ambil jurusan keperawatan... Yahh.. gak perlu menceritakan apa saja yang mereka tanyakan atau kita bicarakan.. karena buat gue itu menyakitkan..

Berkali-kali mereka menyudutkan gue..
Berkali-kali mereka seolah berteriak bahwa keputusan yang gue ambil adalah sebuah kesalahan besar..
Berkali-kali gue jatuh dan bangun sendiri menghadapi itu semua..
Terkadang ingin menangis dan berteriak.. berontak dan membuat pilihan yang lain..
Tapi gue gak bisa..
Mungkin apa yang mereka pikirkan dan katakan tentang gue adalah sebuah kebenaran...
Mungkin memang keputusan yang gue ambil adalah sebuah kekonyolan..
Tapi gue sadar.. gue gak boleh menyerah..
Sesakit apapun itu, gue harus bertahan...
Semoga ALLAH masih memberikan gue kekuatan untuk tersenyum di antara kelabilan dan tekanan yang gue rasakan ini...

Senin, 06 September 2010

Berkali-kali gue tersesat dalam perasaan seperti ini..
Mungkin benar, sepanjang tahun ini hidup gue dibayangi kerapuhan..
Keluarga dan orang terdekat rasanya gak berarti banyak dalam membantu gue mengatasi kerapuhan...
Suasana rumah yang gak terasa hangat seperti dulu..
Justru malah menjadi dingin.. atau bahkan panas sekali..
Serasa berdiam dalam sekam di neraka..
Membuat gue justru makin rapat memendamnya sendiri...
Semuanya terasa sulit..
Membuat gue tak bisa bergeming..
Dan jangan salahkan gue kalau gue gak betah berlama-lama di sini...
Mungkin gue harus  banyak sabar..
Tapi rasanya terus"an memendam sesuatu apapun itu, dalam jangka waktu yang lama  bukan hal yang baik untuk gue..
Segala sesuatu yang  ditahan  memang akan terasa menyakitkan dan menyiksa..

Seseorang dan teman pun bahkan tak ada..
Kadang seseorang yang saat itu merasa paling gue cintai, dia yang paling menyakiti gue..
Bahkan dengan mudahnya dia menginjak-injak tunas harapan di hati gue..
Berkali-kali menyudutkan gue..
Berkali-kali menendang gue dalam keterpurukan yang lebih dalam..
Dan akhirnya membuat gue makin merasa buruk..
Menyedihkan memang...
Rasanya dia yang paling membuat gue merasa tersisih.. tak berguna..
Tapi gue sadar..gue harus bertahan..
Walaupun kadang ketika perih itu datang, gue kembali harus menelannya sendiri..
Bahkan harus mampu menahan air mata untuk gak turun..

Kalut dan kacau..
Redup dan hilang..
Mungkin benar, bahwa gue yang makin menggelapkan hati gue
Meski awalnya orang lain yang menyulut..


Lalu harus gue bawa kemana perasaan seperti ini..

Senin, 12 April 2010

Sensitive and Skripsi

Bagi gue dan teman-teman angkatan 2006, skripsi merupakan topik yang paling 'in' selama hampir 2 tahun ini. Sebenarnya keeksisan skripsi dimulai ketika kami memasuki semester 7, dimana ada mata kuliah Metodologi Penelitian, yang didalamnya menjelaskan mengenai skripsi dan tetekbengeknya. Mulai dari proposal, literatur review, permasalahan, judul skripsi dan fenomena.

Selama mengkuti mata kuliah itu, jujur gue sama sekali belum kepikiran gimana wujud skripsi yang akan gue buat nanti. Sama sekali blum kepikiran fenomena itu seperti apa, judul yang bagus yang kaya gimana, bingung menentukan kualitatif atau kuantitatif, dan seribu pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran gue juga teman".

Semester 7 berlalu, dan bayang" buruk akan skripsi selalu menggelayuti gue. Perlahan skripsi dan segala tetekbengeknya membuat hari-hari gue diliputi ketakutan. Ditambah dengan atmosfer kampus, ribut" dikalangan teman" tentang skripsi, simpang siur gosip yang beredar mengenai skripsi, itu semua menjadi stressor yang cukup besar untuk gue. Sangat besar. Bahkan saking besarnya, gue sampai merasa lebih nyaman jauh dari kampus dan lebih baik gak ketemu teman" karena mau gak mau pasti akan terbawa suasana yang makin membuat gue tertekan.

Sekalipun gue tetap merasa tertekan di kosan, tapi perasaan itu gak jauh beda ketika gue datang ke kampus. Hufft...bahkan dalam diri gue sendiri muncul suatu perasaan yang aneh. Entah kenapa akhir" ini gue menjadi sangat sensitif dan terkadang gue bisa sesaat membenci orang" yang memberikan stressor termasuk teman" dan mungkin dosen pembimbing.

Sekarang adalah minggu" kritis pertama. Minggu ini, mulai dikumpulkannya draft proposal untuk selanjutnya akan dijadwalkan seminar minggu depannya. Well, disadari atau tidak, diakui atau tidak, ini membuat gue muak. Aaaahh... 

Yah, disini gue mau jujur. Sebenarnya, ada perasaan sedih dan sakit melihat mereka yang begitu mudahnya mendapatkan ACC untuk seminar dan mengumpulkan draft, dalam hati gue berkata :' ko mereka gampang banget yaaa??'
Ada perasaan benci, entah benci kepada siapa dan kepada apa. Mungkin membenci keadaan...
Keadaan yang serba cepat, keadaan yang bisa dengan mudahnya menjadi stressor, keadaan yang mungkin kurang memihak pada gue, keadaan yang tidak ideal menurut gue, dan keadaan lain yang terbentuk karena keadaan ini.

Entah disadari atau tidak, keadaan seperti ini jadi memunculkan keadaan lain yang jujur saja membuat gue muak dan prihatin.
Keliatan banget... Mereka yang duluan dengan mereka yang duluan, mereka yang bernasib mujur dengan mereka yang bernasib mujur, mereka yang bernasib kurang baik dengan yang kurang baik, mereka yang bernasib tidak jelas bersatu dengan mereka yang bernasib tidak jelas.
Sementara gue sendiri entah ada di nasib yang mana. Kalau yang gue rasakan sekarang adalah, gue berada di kumpulan orang" yang bernasib tidak jelas. Penuh dengan penantian. Mungkin memang bukan saja yang mengalami penantian, tapi kadang situasi yang gak jelas membuat gue hanya bisa menunggu.
Tapi jika dibandingkan dengan teman" yang bernasib kurang beruntung, gue mungkin masih merasa lebih beruntung di banding mereka. Banyak diantara temen" gue yang belum mendapat judul, belum di acc bab 1 nya. Hal ini karena banyak faktor. Bukan semata-mata karena mahasiswanya, tapi karena dosen yang sibuk, dosen yang terkesan 'mempersulit', karakter dosen yang ingin sempurna, dan banyak faktor lain yang mendukung.
Yah.. cukup prihatin memang. Dan yang paling membuat gue prihatin adalah melihat teman" gue yang terlihat sangat super sensitif akhir-akhir ini. Rasanya dalam masa" seperti ini, gampang banget untuk meneteskan air mata, bahkan kadang di tempat yang seharusnya tidak perlu. Termasuk gue, di dalamnya. Sempat sekali gue gak bisa menahan air mata, karena gue udah terlalu dalam menahan perasaan sesak yang diakibatkan situasi seperti ini.
Jujur, gue benci dalam keadaan kaya gini. Gue jujur saja bukan tipe orang yang begitu mudahnya memberikan semangat. atau sekedar mengucap kata semangat kepada orang lain. Karena bagi gue cara itu sama sekali gak berpengaruh banyak. Gue merasa lebih baik dan lebih semangat, ketika membaca atau mendengar ada orang yang mengucapkan kata" yg 'membangun' tapi realistis. Itu akan sangat bekerja menguatkan hati gue. Membesarkan hati gue yang kadang mulai kecil. 
Dan gue pun berusaha menerapkan itu kepada teman" gue yang merasa down. Rasanya mengucapkan kata 'SEMANGAT' itu terlalu simpel dan tak ada artinya, karena semua bisa bilang gitu. Tapi gue mencoba menguatkan hati gue dan teman" dengan kata" yang menurut gue cukup membangun tapi tetap realistis dan mengena dihati
Karena jujur saja, mendengar kata skripsi dan proposal gue merasa sangat sensitif. Apalagi kalau gue merasa dalam kondisi yang terpuruk dan berada dalam ketidakjelasan seperti ini. Karena bagi gue, melihat kondisi teman" yang beberapa langkah lebih maju dari gue, bukannya malah membuat gue semangat, tapi malah tambah bikin gue makin terpuruk. Makannya, gue bisa mendadak benci seketika dengan mereka yang beberapa langkah lebih maju dari gue dan hanya bisa berteriak SEMANGAT!
Menurut gue, lebih baik diam. Mereka atau gue, mungkin lebih baik diam. Biar hanya gue yang merasakan, karena gue yakin orang lain pun gak akan mampu merasakan apa yang gue rasa. Begitupun orang lain, gue pun gak bisa merasakan sebenar-benarnya apa yang mereka rasakan. 

Senin, 01 Maret 2010

supersensitive

21.35 WIB
Tanpa sadar malam telah beranjak larut. Dan gue masih terdiam di depan laptop. Merasa hampa. Sepi. Kosong. Ditemani lagu" sendu yang entah kenapa masih saja gue dengarkan padahal dalam keadaan sensitif seperti ini, mereka bisa membuat air mata gue mudah jatuh. Tak ada orang yang tahu apa yang gue rasa. Karena gue sendiri susah mendeskripsikannya. Berjuta perasaan membuat hati gue makin kacau malam ini. Dan nampaknya makin kacau karena gak ada satupun orang yang bisa gue temui untuk berbagi rasa.
Rasa takut, kesepian, kesedihan, kebimbangan, down, cemas, sedikit sakit mungkin...
Entahlah jangan tanya kenapa gue jadi supersensitive seperti ini. Setiap perempuan pasti mengerti kenapa mereka terkadang berada dalam perasaan seperti ini. Merasa jatuh, di bawah, terpuruk, ditinggal jauh sendirian oleh keberuntungan.
Gue jujur gak tahu harus mulai darimana mendeskripsikan apa yang gue rasa. Mungkin dari perasaan takut kehilangan.

Kehilangan. Yah, semua orang pasti pernah merasa kehilangan. Semua orang pasti akan merasa kehilangan, bahkan semua orang tanpa mereka sadari akan mulai kehilangan dirinya. Bagian" dari dirinya. Pribadinya, masa kecilnya, masa mudanya, masa keemasannya....

Hm... terlepas dari perkataan ngawur gue di atas, gue jadi sering merindukan orang tua gue. Merindukan kelurga gue. Merindukan kebersamaan dan hari" bersama mereka. Semakin gue dewasa, gue makin jauh dari mereka. Gue makin dituntut untuk mandiri, dewasa, memberi mereka 'sesuatu' yang membanggakan.
Jarangnya gue pulang dan menghabiskan waktu bersama mereka, membuat gue kadang lupa bagaimana rasanya merasakan kasih sayang mereka yang begitu besar. Dan ketika gue pulang, meskipun sedikit perhatian yang diberikan, tapi itu kadang berarti besar buat gue. Merasa begitu benar" disayangi oleh mereka membuat hati gue tenang. Membuat gue kuat.

Gue tahu mungkin banyak hal dan masalah di rumah yang mereka sembunyikan dari gue, yang mereka gak ceritakan kepada gue hanya karena gue gak boleh kepikiran dan bisa menganggu konsentrasi belajar gue.

Seperti kasus om gue yang kecelakaan, tapi demi anaknya (sepupu gue), beliau gak memberitahu sepupu gue karena gak ingin membuat sepupu gue itu khawatir. Dan itu pernah terjadi pada gue.

Ketika papa masuk ke rumah sakit dalam keadaan gak sadar, mama memberitahu gue sangat hati", dan dengan kata" yang dipilih supaya gue gak khawatir dan cemas. Begitu pula ketika ibu kecelakaan karena ditabrak motor, gak ada 1 pun yang ngasih tau gue, dan akhirnya mba yang mengabari gue, itupun dengan diam" karena ibu melarang mengabari gue, dan semua itu dilakukan karena takut gue khawatir dan sedih.

Keadaan seperti itu justru membuat gue makin sedih dan down. Waktu itu yang gue bisa lakukan hanya menangis sendirian di kosan. Kacau dan bingung.

Dan sekarang, di saat semuanya sibuk dengan urusan masing". Gue sendiri termenung memikirkan tentang hal" seperti itu, membuat gue makin sedih. Rasanya sesak. Entah kenapa...
Mungkin karena gue benar" lagi sangat sensitif. Gue takut sendirian, gue takut ditinggalkan. Meskipun gue terbiasa sendiri, tapi gue butuh orang lain. Kadang gue lupa gimana rasanya dimanjakan, karena mungkin gue selalu mencoba menjalaninya sendiri.

Telah lama gue menginginkan sesuatu yang 'indah dan bermakna dalam' di kehidupan gue. Kadang rasanya hati ini begitu gersang. Mungkin simpelnya, saat ini, gue ingin sekali mendapat perhatian. Mendapatkan kasih sayang lebih dari seseorang. Gue merindukan saat" indah nan romantis itu.
Gue ingin sekali merasakan terkejutnya mendapat surprise sampai bisa menangis bahagia. Gue gak pernah menangis karena bahagia. Gue ingin sekali merasakan itu dari dalam hati....


 

Septina Priyanti's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design